Jejak Kaki di Amsterdam – Belanda (late post)

Menjejakan kaki di negeri orang merupakan salah satu impian. Namun untuk sampai di negeri yang jauh dibelahan benua tentu merupakan sebuah anugerah tersendiri. Dan tentunya tidak salah pula jika akhirnya saya pun menuliskan pengalaman saya saat menjejakan kaki di negeri orang di belahan dunia yang lain. Ya… kali ini perjalananku menyentuh bumi eropa. Rancangan perjalanan mulai dari Amsterdam (transit), Stuttgart (follow up agreement at tettnang), Swiss, Paris, dan kembali lagi ke Amsterdam.

Perjalanan panjang tersebut tidak lain menindaklanjuti hasil nota kesepahaman yang sebelumnya telah ditandatangani bersama di tahun 2012 yang difasilitasi oleh Kemendikbud di Malang. Namun rasanya tidak lengkap jika perjalanan tersebut tidak direkam dalam lensaku. Dan kali ini kubagi rekamanku menjadi beberapa postingan. Kali ini khusus untuk rekaman lensaku di Kota Amsterdam.

Salah satu Canal di Amsterdam yang menjadi daya tarik wisata negeri kincir angin

Gambar di atas merupakan rekaman pertama yang menjadi incaranku mengingat berdasarkan hasil browsing bersama mbah google disebutkan bahwa salah satu pusat dan daya tarik wisata di kota Amsterdam adalah wisata airnya yang mengitari kanal. Sesungguhnya yang membuat kota ini semakin menarik adalah disaat kita sampai di bandara internasional Schipol dan melangkahkan kaki keluar ruang bandara, kita sudah disambut dengan tulisan I Amsterdam dan taman bunga tulip. Sambutan yang luar biasa bagi para wisatawan yang mengunjungi kota ini.

Untuk menuju ke kota dapat menggunakan bis yang memiliki layanan wifi gratis dan nyaman. Sepanjang perjalanan menuju kota memang bisa dikatakan pemandangan yang ada disekitar jalan yang dilalui tidak jauh berbeda dengan di Indonesia pada umumnya. Perbedaannya hanya pada penataan kota yang jauh lebih rapi. Tapi saya yakin bagaimanapun kita mengagumi negara lain tetap saja Indonesia masih lebih baik dihati. Kok Begitu? Ya! Karena keragaman suku dan kondisi alam yang masih banyak belum tersentuh oleh manusia membuat negeriku masih jauh lebih indah dari negara lain. Namun selalu saja apa yang kita lihat di negara lain bisa dijadikan masukkan buat kita untuk membangun negeri ini.

Kembali ke perjalananku ya 🙂

Mungkin karena datang terlalu pagi jadi pada saat sampai di tengah kota, kota Amsterdam masih begitu sepi apalagi suhu pagi yang dingin dan berangin sehingga mungkin lebih enak klo baring di tempat tidur hehehe. Di Amsterdam masyarakatnya lebih menyukai menggunakan kendaraan umum berupa bus, taksi, atau trem. Selain itu mereka cenderung menggunakan sepeda dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari.

Nah, pertemuan seluruh moda di tengah kota bisa menjadi sesuatu hal yang menarik buat diperhatikan dan dipelajari. Transportasi massal menjadi pilihan masyarakat selain menggunakan sepeda. 

Deretan Sepeda yang terparkir di pinggir jalan dengan rapi

Kota ini sepertinya juga menjadi pusat pertemuan dan menjadi kota pariwisata. Kedekatan jarak antar obyek wisata dan pendungkung pariwisata membuat kota ini menjadi menarik para wisatawan. Nah ini bisa menjadi masukan bagi kita dalam membangun sebuah kota dengan konsep green city mengingat banyaknya kendaraan yang menggunakan bahan bakar listrik. Wow mungkin suatu saat nanti kita bisa memiliki kota dengan konsep green city yang utuh.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s