Pasar Terapung Banjarmasin

Membelah sungai di pagi buta memang merupakan sebuah tantangan sendiri, terutama bagi kita yang masuk ke daerah yang baru dan sama sekali belum pernah menyentuhnya. Mencari informasi yang berkembang terhadap suatu daerah biasanya dilakukan oleh kita bila ingin mengunjungi suatu daerah sehingga dapat merencanakan rencana kunjungan dengan optimal dengan alat perekam yang maksimal. Dan kali ini kunjungan itu membawaku menginjakan kakiku kembali di Kota Banjarmasin. Kok pake kata “lagi”?

Ya! Kota ini bukanlah suatu tempat yang asing bagiku, karena sejak tahun 1995 aku telah menjejakan kakiku di kota seribu sungai ini. Namun tentu nuansanya berbeda. Saat di tahun 1995, dimana pertama kali aku menjejakan kakiku di negeri ini, statusku adalah mahasiswa baru yang diterima diperguruan tinggi negeri di daerah ini. Ya, Universitas Lambung Mangkurat. Saat itu aku berada di kota ini karena diterima di fakultas teknis jurusan teknik sipil melalui jalur UMPTN saat itu. Dan kini aku kembali ke kota ini tentunya dengan status ingin melakukan benchmarking untuk suatu program yang ingin diterapkan di daerah dimana aku bekerja saat ini. Namun disela-sela kesibukan melakukan tugas benchmarking, kusempatkan merekam salah satu obyek wisata di kota ini, yaitu Pasar Terapung Kuin.

Ini adalah salah satu kondisi di pasar terapung yang selalu mampu menjadi magnet bagi para wisatawan baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Terlihat banyak para pengunjung yang datang ke tempat ini hanya ingin mengetahui dan merasakan bagaimana rasanya bertransaksi di pasar terapung. Tentu bagi yang belum pernah merasakan membeli kue dengan mengambilnya dengan menggunakan sebatang kayu yang ujungnya diberi paku harus datang kesini dan merasakan sendiri sensasinya.

Semua transaksi dilakukan di atas perahu yang disebut dengan klotok oleh masyarakat setempat. Untuk menuju ke lokasi pasar terapung ini memang harus menggunakan alat transportasi berupa klotok ini. Mungkin karena suara mesinnya yang tok..tok..tok…tok sehingga disebut dengan klotok. Banyak komoditi yang dijual di pasar terapung ini. Bahkan selain suasananya yang bagus, para pengunjung pun dapat sarapan di atas klotok dengan memanggil para pedagang untuk mendekati klotok yang kita naiki.

Menyadari bahwa pasar terapung merupakan salah satu daya tarik wisatawan, maka pemerintah setempat mencoba mengelola pasar ini dengan membuka jalur yang dilengkapi dengan alat transportasi yang mudah dan terjangkau. Ya … pada akhirnya pemerintah setempat mencoba mengumpulkan para pedagang di pasar terapung pada suatu daerah yang disebut Pasar Terapung Lok Baintan. Namun lokasi yang saya kunjungi adalah yang berada di daerah Kuin yang merupakan daerah yang lama. Sehingga tentu saja saya harus menuju kesana setelah sholat subuh. Berbeda dengan pasar terapung kuin yang harus dikunjungi pagi-pagi alias pasca sholat subuh, untuk pasar terapung Lok Baintan dapat dikunjungi lebih siang. Namun bukanlah siang hari, namun pagi hari.

Sesungguhnya Indonesia kaya dengan daerah pariwisata yang mampu menjadi salah satu aset bagi masing-masing pemerintah daerah untuk dapat meraup PAD dari sektor pariwisata. Namun tentu saja diperlukan adanya komitmen dan kerja sama dengan seluruh stake holder agar pengelolaannya dapat lebih optimal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s